MAKALAH EKONOMI SUMBERDAYA ALAM

Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan       

Maret,30 2021                                                                                                            Medan,  Maret 2021

STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA BERBASIS EKONOMI LOKAL DALAM RANGKA PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI WILAYAH KABUPATEN MALANG 

Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko. S. Hut., M. Si.

 

Oleh :

Zakiya Hasanah

191201075

HUT 4D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

 2021

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulisanMakalah dengan judul “Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Pohon Kepuh.” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam menulis Makalah ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepadaibu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. Selaku dosen penanggungjawab dan telah membantu dan membimbing penulis dalam pelaksanaan praktikum hingga selesainya Makalah ini.

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dan kelemahan pada tulisan makalah ini akibat terbatasnya kemampuan penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis sangat mengharapkan adanya kritik ataupun saran guna penyempurnaan tugas-tugas selanjutnya dan penulis juga ingin meyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulisanmakalah ini.

                                                                                                                                     Medan, Maret 2021





BAB 1

PENDAHULU

 

Latar Belakang

Pembangunan ekonomi daerah yang kuat dan berkelanjutan merupakan sebuah kolaborasi yang efektif antara pemanfaatan sumberdaya yang ada, masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah sebagai regulator berperan strategis dalam mengupayakan kesempatan yang luas bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi penuh dalam setiap aktivitas ekonomi. Salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan pariwisata dengan konsep Ekowisata. Dalam konteks ini wisata yang dilakukan memiliki bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya-upaya konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong respek yang lebih tinggi terhadap perbedaan kultur atau budaya. Hal inilah yang mendasari perbedaan antara konsep ekowisata dengan model wisata konvensional yang telah ada sebelumnya. Secara sederhana, konsep ekowisata menghubungkan antara perjalanan wisata alam yang memiliki visi dan misi konservasi dan kecintaan lingkungan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari Pengembangan Ekowisata??

2. Bagaimana Kondisi Penembangan Ekowisata Berbasis Ekonomi?

3.Kebijakan Pengembangan Ekowisata di Pulau Sempu Kabupaten Malang?

 

1.3 TUJUAN MASALAH

1. Untuk mengetahui pengertian dari Pengembangan Ekowisata

2. Untuk mengetahui Kondisi Pengembangan Ekowisata Berbasis Ekonomi

3. Untuk mengetahui Kebijakan Pengembangan di Pulau Sempu Kabupaten Malang

BAB II

 

2.1. Pengertian Ekowisata Berbasis Ekonomi

Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat.Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam yang alami maupun buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya. Ekowisata menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu; keberlangsungan alam atau ekologi, memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, dan menikmati pengalaman alam, intelektual dan budaya masyarakat lokal.



2.2.Kondisi Pengembangan Ekowisata Berbasis Ekonomi

    Dalam perkembangan kepariwisataan secara umum, muncul pula istilah sustainable tourism atau “wisata berkelanjutan”. Wisata berkelanjutan dipandang sebagai suatu langkah untuk mengelola semua sumber daya yang secara sosial dan ekonomi dapat dipenuhi dengan memelihara integritas budaya, proses-proses ekologi yang mendasar, keragaman hayati, dan unsur-unsur pendukung kehidupan lainnya”. Berdasarkan pemahaman diatas, maka pariwisata dipandang sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan pendapatan daerah. Apalagi pengoptimalan potensi ini di dasari bahwa pariwisata merupakan sektor yang lebih menekankan pada penyediaan jasa dengan mengoptimalkan potensi kawasan wisata. Di wilayah Jawa Timur, pusat-pusat wisata telah berkembang dengan pesat seiring dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat di wilayah ini. Beberapa tawaran wisata yang ada sangatlah beragam, mulai dari wisata bahari, pegunungan, agro, satwa dll. Di wilayah Kabupaten Malang tersimpan keaneka ragaman wisata yang sangat menarik, salah satunya ada wisata bahari yang ada di wilayah Sendang Biru, yaitu Pulau Sempu. Konsep pengembangan wisata yang ditawarkan di Pulau Sempu adalah konsep Ekowisata, dimana pengembangan wisata yang ada diselaraskan dengan isu-isu konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Keunikan inilah yang coba dicapture dalam penelitian ini bahwa pengembangan wisata ini mampu memberikkan nilai lebih tidak hanya pada lingkungan dan ekonomi, namun juga terhadap social welfare masyarakat secara umum. Berangkat dari kondisi tersebut penelitian ini bertujuan untuk(1). Mengidentifikasi kekuatan ekonomi lokal yang berada di wilayah ekowisata di Kabupaten Malang dan (2). Menyusun strategi yang dapat mendorong pengembangan potensi ekowisata yang berbasis ekonomi lokal di Kabupaten Malang.

2.3. Kebijakan Penembangan Ekowisata di Pulai Sempu

A.kondisi di daerah Pulau Sempu

    ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh pengambil kebijakan, untuk pengembangan ekowisata di kawasan Pulau sempu :

1. Penguatan konsep ecotourism bagi Pulau Sempu. Pulau Sempu yang memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik perlu dikembangkan secara lebih serius oleh Pemerintah. Hal ini dilakukkan demi meningkatkan nilai ekonomis wilayah ini bagi penguatan ekonomi masyarakat sekitar. Namun untuk mengurangi dampak yang negatif terhadap kerusakan lingkungan maka diperlukan sebuah upaya khusus untuk menanggulanginya. Salah satu konsep yang tepat untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembangkan konsep Ecotourism di Pulau Sempu. Dalam konteks ini maka wisata Pulau Sempu akan diarahkan sedemikian rupa agar pengembangannya tidak menganggu atau selaras dengan upaya konservasi lingkungan serta berdampak positif bagi pengembangan ekonomi lokal. Pengembangan ekonomi lokal dilakukkan selain untuk menopang keberlanjutan konservasi juga diperlukan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar. Namun dalam mengembangkan dan menguatkan konsep Ecotourism untuk mengembangkan ekonomi lokal diperlukan sebuah pemahaman yang tepat pada masyarakat dan pemerintah lokal. Hal ini dilakukkan agar pemerintah lokal dan masyarakat bisa berperan aktif dan menjadi stakeholder yang berkepentingan terhadap pengembangan wilayah ini. Salah satunya adalah dengan mengembangkan sebuah unit-unit ekonomi (BUMDES-Badan Usaha Milik Desa) dan Koperasi untuk mendukung aktivitas dan  kebutuhan para wisatawan, mulai dari unit usaha makanan, Souvenir, MCK, penyebrangan (Kapal Nelayan), Penginapan, Parkir hingga Pemandu wisata.

 2. Mendorong linkage dengan travel unit (agen perjalanan). Pengembangan suatu kawasan wisata tidak bisa dilepaskan dari keberadan para pemadu wisata dan agen perjalanan. Karena pemandu wisata dan agen wisata merupakan ujung tombak terdepan yang langsung berhubungan dengan para wisatwan atau stakeholder, sehingga untuk lebih mudah dalam mengembangkan suatu kawasan ekowisata maka diperlukan partisipasi mereka secara lebih jauh. pemandu wisata dan agen perjalanan bisa dikontrol. Selain itu, keinginan dari para.

3. Mendorong partisipasi dan pemberdayaan masyarakat Wisata. Masyarakat lokal sebenarnya bukanlah hambatan bagi pengembangan Ekowisata, karena peran mereka seharusnya tidak terpisahkan dalam program-program wisata. Pengelolaan berbasis masyarakat ini merupakan salah satu pendekataan pengelolaan alam yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaanya. Ditambah adanya transfer diantara generasi yang menjadikan pengelolaan menjadi berkesinambungan menjadikan cara inilah yang paling efektif, dibanding cara yang lainya.

B.Secara umum, ekosistem dalam pulau sempu dapat dikelompokan dalam empat

type yang berbeda:

a) Ekosistem hutan Mangrove. Stuktur hutan mangrove ini sangat sederhana karena terdiri dari satu lapisan tajuk pohon dengan jenis-jenis yang relatif sedikit. Jenis-jenis tumbuhan yang umum di jumpai adalah Bakau (Rhizobhara sp), dan Api-api (Avicenia sp). Sedangkan jenis-jenis satwa yang umum di jumpai pada daerah perairan hutan mangrove adalah Ikan Glodok, Kepiting dan Udang.

b) Ekosistem Hutan Pantai. Areal hutan pantai Cagar Alam Pulau Sempu di bagian Utara,Barat dan Selatan Terutama pada pantai dengan pesisir yang landai. Jenis-jenis tumbuhan terdiri dari ketapang (Terminalia catapa), Baringtonia asitica, Waru laut (Hibicus tidiacus) dan pandan (Pandanum tectorius). Adapun jenis-jenis satwa liar yang sering di jumpai pada kawasan pantai ini antara lain : burung Elang Laut (Helicetus leucogaster), burung Dara Laut (Sterna albiforn), Biawak (Varanus sp), Umang Laut dan lain-lain.

c) Ekosistem Danau. Daratan Cagar Alam Pulau Sempu memiliki dua buah danau yaitu Danau Telaga Lele dengan areal seluas ± 2 Ha, yang merupakan danau air tawar. Danau Segoroanakan dengan areal seluas ± 4 Ha yang merupakan danau asin. Danau Air Tawar Telaga Lele terletak dibagian timur kawasan Cagar Alam,sedangkan Segoro Anakan berada dibagian Barat Daya. Masing-masing memiliki peranan yang pemting sebagai sumber air bagi kehidupan satwa liar, terutama pada musim kemarau.

d) Ekosistem Hutan Tropis Dataran Rendah. Tipe ekosistem ini menempati areal yang terluas dan tersebar hampir di seluruh kawasan, sehingga menjadi ciri utama dari kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Struktur hutan tropis ini di tandai dengan adanya tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari tiga atau empat lapis tajuk pohon dengan komposisi yang beragam. Beberapa jenis pohon yang dominan yaitu Bendo (Artocarpus elasticus), Triwulan (Mishocarpatus sundaica), Wedang (Pterocarpus javanicus) dan Buchanania arborescens


DAFTAR PUSTAKA

Moleomg,Lexy J.2005.Metodologi Penelitian Kuantatif.PT Remaja Rosdakarya.Bandung

Chafid Fendeli,1997.Dasar-Dasar Manajemen Kepariwisataan Alam,Yogyakarta:Liberti

Hari Karyono,1997.Kepariwisataan,Jakarta:Penerbit PT.Garuga Widisauna Indonesia

Hadinoto,1997.Perencanaan Penembangan Destinasi,Jakarta:PT.Granmedia

Marpaung Happy,2000.Pengetahuan Kepariwisataan,Bandung:Alfabeta

Komentar